Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Itikaf, Apa Saja?

Siapa yang pernah itikaf?

Dream – Itikaf merupakan amalan yang semakin giat dilakkukan umat Muslim ketika memasuki 10 hari terakhir di bulan suci Ramadan. Itikaf merupakan kegiatan menetap atau berdiam diri di dalam masjid untuk lebih mendekatkan diri ke Allah SWT.

Selama di masjid, umat Muslim tak lepas menjalankan ibadah sesuai ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Itikaf bukan hal yang sembarang dilakukan. Sahabat Dream harus tahu apa saja yang bisa membatalkan ibadah itikaf.

Secara umum, tidak terlalu banyak perbedaan terkait pembatal itikaf dengan ibadah lainnya. Tetapi ada beberapa hal lain yang bisa membatalkan itikaf.

Dikutip dari Rumah Fiqih Indonesia, pembatal itikaf pertama adalah jima’ atau berhubungan suami istri. Dasarnya adalah larangan yang tercantum dalam Surat Al Baqarah ayat 187.

” …Dan janganlah kamu melakukan persetubuhan ketika kamu beri’tikaf di masjid…”

Pembatal kedua yaitu keluar dari masjid. Para ulama sepakat hal ini berlaku apabila seseorang meninggalkan masjid tanpa hajat.

Para ulama kemudian menyimpulkan apa saja hajat yang tidak membatalkan itikaf yaitu buang air dan mandi wajib.

Tidak batal itikaf bagi orang yang ingin buang air kecil. Juga apabila ketika beritikaf dia harus mandi wajib karena bermimpi basah, maka itikafnya bisa dilanjutkan.

Hajat kedua yaitu keluar masjid untuk makan dan minum. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali menyatakan orang keluar masjid untuk makan batal itikafnya.

Ketiga mazhab ini menyatakan seharusnya seorang yang beitikaf sudah menentukan orang yang akan mengantarkan makanan kepadanya. Sedangkan makan dan minum di dalam masjid dibolehkan.

Pandangan Mazhab Lain Tentang Itikaf

Ilustrasi

Sementara Mazhab Syafii membolehkan orang beritikaf keluar masjid untuk makan dan minum. Mazhab ini memandang bukanlah sesuatu yang patut makan minum di dalam masjid meski dibolehkan.

Hal yang membatalkan itikaf lainnya adalah mabuk. Mazhab Syafi’i, Hambali, dan Maliki memegang pendapat ini, sementara Mazhab Hanafi tidak.

Ulama Mazhab Hanafi berpendapat mabuk tidak membatalkan itikaf jika terjadi pada malam hari. Jika siang hari, mabuk membatalkan puasa dan itikaf.

Itikaf di 10 Malam Terakhir Ramadan, Ini Tata Caranya

Dream – Selain puasa dan Tarawih, ada satu ibadah lagi yang identik dengan Ramadan. Ibadah itu yaitu itikaf.

Itikaf yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berdiam di masjid dengan tata cara tertentu. Ini merupakan ibadah sunah yang dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Ibadah ini dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA.

” Nabi SAW beritikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beritikaf sepeninggal beliau.”

Sayangnya, akibat pandemi Covid-19 saat ini kita belum sepenuhnya bisa beriktikaf di masjid. Meski begitu, iktikaf dapat dilakukan di rumah.

Tujuan Itikaf

Itikaf bertujuan mengarahkan pikiran dan hati hanya kepada-Nya. Selalu berzikir untuk mengingat Allah serta merenungkan perjalanan hidup.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 125, Allah berfirman:

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku’ dan yang sujud.

Itikaf

Upaya Pembersihan Diri

Sebagian dari sekian banyak manfaat itikaf yaitu hati terasa lebih nyaman dan terbuka.

Ketika seseorang beritikaf, maka dia sedang membersihkan dirinya dari kehidupan dunia. Mencoba mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 187, Allah SWT berfirman:

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.

Itikaf

Ketika seseorang sedang beritikaf, maka ia akan terbebas dari gangguan-gangguan duniawi. Hal ini akan membuat diri menjadi lebih fokus untuk beribadah.

Sunah Selama Itikaf

Selama itikaf, terdapat sejumlah amalan sunah yang dianjurkan dilakukan. Sunah tersebut yaitu mendirikan sholat, bertasbih, berdzikir, membaca Alquran.

Sedangkan selama beritikaf, tidak dianjurkan untuk berbicara kecuali yang baik. Dilarang menggunjing atau berkata kasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight + 5 =

Shopping cart