Hukum dan Cara Qadha Puasa Ramadan

Setiap Muslim yang berhalangan berpuasa Ramadan diwajibkan menggantinya di luar bulan Ramadan.

Dream – Tidak semua Muslim bisa berpuasa saat Ramadan. Banyak di antara kita yang mengalami uzur atau halangan, sehingga tidak bisa menjalankan rukun ke empat Islam tersebut.

Bisa saja seseorang mengalami sakit saat Ramadan, sehingga tidak bisa menjalankan puasa. Ada pula yang melakukan perjalanan jauh, harus bekerja berat, maupun halangan lainnya.

Mereka yang tidak bisa menjalankan puasa karena berbagai halangan wajib mengqadha puasanya di luar bulan Ramadan. Qadha mempunya makna memenuhi atau melaksanakan. Menurut istilah ilmu Fikih, qadha berarti pelaksanaan suatu ibadah di luar waktu yang telah ditentukan oleh syariat Islam.

Seseorang yang melakukan puasa qadha harus mengucapkan niat berpuasa di malam harinya. Niat puasa qadha juga bisa dilafalkan usai santap sahur. Syarat ini berdasar pada hadis Rasulullah SAW, ” Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” (Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna)

Puasa qadha dilakukan sebanyak jumlah hari yang hilang selama menjalankan puasa bulan Ramadhan sebelumnya. Qadha hukumnya wajib dilakukan setiap muslim yang berhalangan di bulan Ramadhan. Sementara syarat puasa qadha adalah baligh, berakal sehat, dan tidak memiliki halangan.

Allah SWT berfirman, ” … maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin … ” (QS. Al-Baqarah: 184)2 dari 3 halaman

Niat puasa qadha harus dilafalkan pada malam sebelumnya atau pada saat bangun sahur. Berikut lafalnya:

 Niat mengqadha puasa Ramadan

” Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’I fardhi syahri Ramadhana lillahi ta‘ala.”

Artinya: ” Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Ada dua pendapat terkait pelaksanaan qadha puasa, apakah harus dilakukan secara berurutan atau tidak.

Pendapat pertama, puasa qadha harus dilaksanakan secara berurutan karena puasa yang ditinggalkan juga berurutan. Namun belum ada hadis yang shahih tentang pendapat ini.

Pendapat ke dua, pelaksanaan qadha puasa tidak harus dilakukan secara berurutan. Karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan bahwa puasa qadha harus dilaksanakan secara berurutan.

” Qadha’ (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan.” (HR. Daruquthni)

Puasa qadha harus dilaksanakan sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan. Tetapi bagaimana jika seseorang lupa berapa banyak puasa qadha yang harus dilakukan?

Maka sebaiknya mengambil jalan tengahnya. Yaitu menentukan jumlah hari yang paling maksimum. Contohnya jika seseorang lupa apakah ia harus mengqadha puasa sebanyak 5 atau 6 hari. Maka sebaiknya ia memilih yang keenam. Karena lebih dalam berpuasa lebih baik daripada kurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − 5 =

Shopping cart