Ibu Menyusui Boleh Tak Puasa, Ini Syaratnya

Kebolehan tidak berpuasa merupakan keringanan untuk ibu menyusui. 

Dream – Puasa Ramadan wajib dilakukukan bagi seluruh muslim yang mampu dan sehat fisik maupun mental. Tidak terkecuali ibu menyusui.

Tetapi, terdapat kekhawatiran pada ibu menyusui bila puasa mempengaruhi kualitas produksi ASI. Sehingga dapat berdampak pada kondisi bayinya.

Dalam situasi ini, Islam membolehkan ibu menyusui untuk tidak berpuasa. Salah satu alasannya untuk menghindari hal buruk yang bisa terjadi pada diri sang ibu maupun bayinya.

Bahkan Mazhab Syafi’i melarang wanita menyusui berpuasa jika membawa dampak buruk bagi anak dan atau dirinya.

Ada beberapa syarat yang membolehkan ibu menyusui tidak berpuasa selama dianggap membahayakan kesehatan.

Wajib men-qadla

Ibu menyusui wajib men-qadla puasanya di bulan lain. Tetapi bila puasa Ramadan dikhawatirkan membawa dampak negatif hanya pada anaknya, ia juga berkewajiban membayar fidyah selain men-qadla puasanya.

Bolehkah mengonsumsi antihistamin dan dekongestan saat menyusui?

Hal ini seperti yang disampaikan Hal ini sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Juzairi dalam kitabnya Al Fiqh ‘ala Madzahib Al Arba’ah.

” Mazhab Syafi’i berpendapat, bahwa perempuan hamil dan menyusui ketika dengan puasa khawatir akan adanya bahaya yang tidak diragukan lagi, baik bahaya itu membahayakan dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja. Maka dalam ketiga kondisi ini mereka wajib meninggalkan puasa dan wajib meng-qadla`nya. Namun dalam kondisi ketiga yaitu ketika puasa itu dikhawatirkan membahayakan anaknya saja maka mereka juga diwajibkan membayar fidyah.” 

Besaran fidyah

Puasa adalah ibadah individu. Ibu menyusui yang tak bisa berpuasa karena alasan kesehatan anaknya saja wajib memberikan fidyah.

Fidyah dibayarkan dalam bentuk makanan pokok sebesar 1 mud per hari kepada orang miskin. Menurut Mazhab Syafi’i, satu mud setara dengan 6,75 ons.

Tak Hanya Penuhi Gizi Bayi, Ini Hikmah Menyusui dalam Kajian Islam

Diagnosis dokter atau dugaan kuat

Membahayakan bagi dirinya dan atau bayinya harus disertai dengan bukti yang kuat seperti diagnosis dokter atau kondisi tubuh yang memburuk. Seperti yang disampaikan oleh As-Sayyid Sabiq dalam Fiqh As Sunnah.

” Untuk mengetahui apakah puasa tersebut bisa membahayakan (bagi dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja)bisa melalui kebiasaan sebelum-sebelumnya, keterangan dokter yang terpercaya, atau dengan dugaan yang kuat.” 

Islam mempermudah umatnya menjalankan ibadah. Jadi, ada keringanan bagi ibu menyusui yang kesehatan anak dan atau dirinya dikhawatirkan memburuk saat berpuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 1 =

Shopping cart