Lebih Baik Menikah Saat Ramadan Atau Bulan Syawal?

Sebagian masyarakat bahkan memanfaatkan bulan Ramadan untuk menikah.

Dream – Ramadan bulan penuh berkah. Bulan yang dianggap sangat baik. Umat Islam memanfaatkan bulan suci ini untuk memperbanyak ibadah, karena pahalanya dilipatgandakan.

Sebagian masyarakat bahkan memanfaatkan bulan Ramadan untuk menikah. Bulan penuh berkah ini diyakini sebagai waktu yang tepat untuk memulai sebuah rumah tangga.

Di Bojonegoro, Jawa Timur, bahkan dikenal dengan tradisi Malem Songo. Pada malam ke-29 Ramadan, ratusan warga Bojonegoro melangsungkan pernikahan.

Keyakinan ini dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat Bojonegoro, khususnya di pedesaan. Tidak heran bila pada malam tersebut, ratusan mempelai melangsungkan akad nikah.

Namun, menurut laman nu.or.id, pada dasarnya tidak ada petunjuk yang jelas dalam Alqurann dan hadis yang mewajibkan atau menganjurkan alias sunah melangsungkan pernikahan pada bulan tertentu.

Tidak ada pula larangan melangsungkan pernikahan pernikahan pada bulan tertentu, kecuali saat ihram haji atau umroh.

Meski demikian, para ulama Mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, menganjurkan akad nikah pada bulan Syawal. Anjuran itu berdasarkan hadis shahih riwayat Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i:

” Dari ‘Aisyah r.a. berkata: Rasulullah SAW menikahi saya pada bulan Syawal, dan membangun rumah tangga (berhubungan badan) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah isteri-isteri Rasulullah SAW yang lebih mendapatkan tempat di sisi beliau daripada saya? Perawi berkata, ‘Aisyah RA senang bila berhubungan badan suami istri dilakukan di bulan Syawal,’” (HR Muslim dari Aisyah RA)

Imam Nawawi menjelaskan hadis tersebut: ” Dalam hadits ini terdapat anjuran (istihbab) menikah, dan menikahkan serta berhubungan badan suami istri di bulan Syawal. Bahkan para ulama kami (mazhab Syafiiyah) telah menetapkan anjuran/kesunahan tersebut, dan mereka menggunakan dalil hadis ini. ‘Aisyah dengan perkataannya ini bermaksud menolak tradisi Jahiliyah, dan anggapan sebagian orang awam mengenai kemakruhan nikah, menikahkan dan berhubungan badan di bulan Syawal. Padahal hal ini salah, tidak ada dasarnya, tetapi merupakan tradisi Jahiliyah. Sebabnya mereka (orang-orang Jahiliyah) meramalkan keburukan dengan menghindari nikah, menikahkan dan berhubungan badan di bulan Syawal, karena di dalam nama Syawal terjadi kematian, sial atau keburukan,” (Lihat An-Nawawi, Shahîh Muslim bi-Syarhin Nawawi [Al-Azhar, Al-Mathba’ah Al-Mishriyah: 1929], juz 9, halaman 209).

Yang penting diperhatikan adalah hari yang disunahkan untuk akad nikah, yaitu hari Jumat, waktu sore atau malam Jumat. Sebab, Jumat adalah hari mulia, ” hari raya” umat Islam, dan penuh keberkahan yang merupakan waktu istijabah atau terkabulkan doa, serta diamalkan para ulama salaf. Pernikahan memang dimaksudkan untuk keberkahan, sebagaimana hadis berikut ini:

” Laksanakan pernikahan di sore/malam hari, yakni hari Jumat, karena itu merupakan waktu yang paling besar berkahnya.” (HR Abu Hafsh dari Abu Hurairah r.a.) (Lihat Abû Ishâq Ibn Muflih Al-Hanbalî, Al-Mubdi‘ Syarhul Muqni‘ [Beirut, Dârul Fikr: 1997], juz 6, halaman 92-93).

Berdasaarkan penjelasan di atas, melangsungkan pernikahan pada bulan Ramadan, misalnya seperti di daerah Bojonegoro yang dikenal ” Malam Songo” tidaklah bertentangan dengan ajaran dan ketentuan Islam. Tidak adanya perintah atau larangan mengenai bulan tertentu untuk melangsungkan pernikahan ini bisa menjadi faktor atau alasan adanya kebiasaan atau tradisi melangsungkan pernikahan di bulan Ramadan, yang dimaksudkan untuk memperoleh keberkahan.

Selain itu, kebiasaan tersebut terkait pula dengan tradisi di tanah air, Lebaran Hari Raya Idul Fitri umumnya diperingati lebih meriah dibandingkan Hari Raya Idul Adha (Bulan Haji), sehingga dimaksudkan pula agar pasangan suami istri bisa leluasa merayakan lebaran dengan silaturahim, halal bihalal, rekreasi, dan sebagainya.

Kebiasaan tersebut masuk ke dalam kategori kaidah fikih al-‘Adatu muhakkamah, yakni adat atau kebiasaan dalam masyarakat bisa dijadikan hukum, selama tidak bertentangan dengan ajaran atau ketentuan dalam Islam.

Menjadi lebih istimewa, bila pernikahan yang dilangsungkan pada bulan Ramadan itu pun bertepatan dengan hari Jumat, hari mulia dan penuh berkah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 18 =

Shopping cart